News

Latest Post
Loading...
“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

Selasa, 03 Januari 2017

Sampai Dimana Pendidikan di Negeri Kita?

Rochimudin Indonesia | Selasa, 03 Januari 2017 | 10.25 |
Lambang pendidikan kita
Pendidikan merupakan tanggung jawab negara, sekolah dan masyarakat sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Negara sudah mengaturnya dalam pasal 31 UUD 1945. Apabila pemerintah mampu dan benar-benar mampu maka penyelenggaraan pendidikan ditanggung pemerintah. Namun perkembangannya sekarang ini sudah dimasuki aroma politik.
Lihat saja bagaimana calon kepala daerah dalam janji kampanyenya untuk menggratiskan beaya pendidikan di tingkat dasar dan menengah. Tetapi kenyataannya sekolah dibuat standar-standar saja atau kelimpungan kekurangan dana meski sudah ada dana BOS dan bantuan APBD.  Oleh karena itu sekolahan menjadi tersandera.

Masyarakat berperan dalam mendukung dan membantu pendidikan di sekolah sesuai dengan porsinya. Sekolah dapat maju dan bertahan dengan peran serta masyarakat. Apabila masyarakat merasa memiliki dan membutuhkan sekolah maka akan menjadi simbiosis yang mutualisme. Proses pendidikan dan pembelajaran harus melihat perkembangan masyarakat dan kebutuhan masyarakat. Apabila pendidikan sudah jauh dari keinginan dan kebutuhan masyarakat maka pendidikan akan hampa dan tidak sesuai dengan misinya.

Masyarakat berkembang sesuai dengan jamannya. Era industrialisasi sudah bergeser menjadi era komunikasi dan informasi. Orang bekerja di industri sudah mulai berkurang dengan ditemukannya perangkat mesin digital. Kemudahan memenuhi kebutuhan hidup menjadikan era kesenangan baru sudah dimulai. Masyarakat 
layanan atau service public menjadi trend dan pola hidup baru. Siapa yang dapat melayani publik dengan baik maka yang akan dicari, demikian juga sekolah dan pendidikan. Perkembangan era digital dan pelayanan umum terbaik yang menjadi kebutuhan masyarakat agar berjalan seimbang diperlukan regulasi dan tata nilai yang positif. 

Pendidikan pada masa kini tidak dapat dipisahkan dari pendidikan pada masa lalu karena semuanya merupakan proses panjang. Keberhasilan pendidikan sekarang merupakan buah pendidikan masa sebelumnya dan keberhasilan pendidikan masa depan merupakan buah dari pendidikan atau pembelajaran masa kini. Namun ada yang perlu diingat, cara mendidik pada masa lalu belum tentu dapat diterapkan pada masa sekarang. Dengan kemajuan perkembangan Hak Asasi Manusia dan Hukum maka sudah menjadi tuntutan dan kebutuhan bahwa pendidikan dan proses pembelajarannya memperhatikan HAM. Pendidik yang mengajar dengan cara bertentangan dengan nilai-nilai HAM dan hukum maka dapat dimejahijaukan. 
Guru mengajar
(dok: forkamnisman1pulung.wordpress.com)

Sekolahan (konvensional) merupakan tempat yang sulit mengalami perubahan. Bagaimana model atau cara pembelajaran pada tahun 1992 masih banyak yang sama dengan saat ini (tahun 2016). Di beberapa sekolah belum membudaya belajar tentang bagaimana cara belajar, manfaat apa yang dipelajari, apa target belajar, dan bagaimana meraih cita-cita dengan apa yang dipelajari.

Budaya literasi masih sekedar formalistik dan tantangan atau reward masih jarang diberikan namun sanksi pelanggaran disiplin begitu cepat ditegakan sampai-sampai dibuat tim pendisiplinan siswa. Pemanfaatan lingkungan untuk belajar juga masih dianggap memberatkan proses pembelajaran disamping kurangnya dukungan terutama dana untuk praktikum dan riset.  

Lingkungan masa depan peserta didik kita belum tentu terbayangkan oleh kita, sebagai contoh banyak profesi baru yang tidak terbayangkan pada tahun 1992 seperti programer, gamemaker, desainer digital, pencipta aplikasi, dan sebagainya. Kalau kita masih melihat tayangan film atau video maka era masa depan sudah hadir dalam bentuk hologram. Meskipun demikian, ada suatu hal yang harus kita pertahankan dan variasikan secara positif yaitu tata nilai budaya berdasarkan Pancasila. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan tetap kita pegang dan amalkan dalam lingkungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai inilah yang akan membedakan kita dengan bangsa dan pendidikan negara lain.

Pilihan Solusi

Ada beberapa usulan solusi bagi pendidikan kita agar dapat berkembang lebih maju dan berperadaban sehingga mmeiliki daya saing dengan pendidikan di negara lain yaitu:

1. Reformasi Cara Belajar
Peserta didik sebelum belajar atau sekolah perlu difahamkan bagaimana cara belajar, manfaat apa yang dipelajari, apa target belajar, dan bagaimana meraih cita-cita dengan apa yang dipelajari. Hal tersebut harus dimengerti oleh setiap siswa dan orang tua. Cara dan gaya belajar serta cita-cita setiap siswa mungkin berbeda dengan siswa lain. Oleh karena itu diperlukan pemahaman secara individual dan terapi apabila ada kesulitan belajar.

2. Adanya Target Belajar
Target atau goal dalam belajar mutlak diperlukan. Setiap sekolah memiliki target umum disamping target khusus sesuai dengan visi dan misi sekolah. Namun hal ini yang sering tidak dilaksanakan secara konsisten oleh sekolah, guru dan orang tua siswa. Setiap belajar sebuah mata pelajaran juga perlu target minimal, standar dan maksimal. Target minimal sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal sebuah mata pelajaran. Apabila siswa bercita-cita menjadi dokter maka ia cukup belajar matematika atau bahasa Inggris sesuai target minimal atau standar. Namun pelajaran biologi, kimia, fisika, dan matematika menjadi tuntutan untuk memperoleh target maksimal.
Milikilah target belajar (dok: ut.ac.id)

3. Perubahan Mindset Pendidik
Mindset pendidik perlu disesuaikan dengan tuntutan jaman dan perkembangan teknologi dan informasi di bidang pendidikan. Pendidik yang sudah nyaman di zonanya akan enggan menerima perubahan yang membutuhkan kerja keras, kerajinan, dan berpikir kreatif. Meskipun demikian, penulis salut kepada rekan guru yang telah dapat menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan penerapan teknologi dibidang pendidikan. Mindset yang perlu disesuaikan yang berkaitan dengan model, cara dan media pembelajaran sedangkan tata nilai pendidikan yang humanis tetap diperlukan.

Poster guru kreatif (dok: motivatorkreatif.wordpress.com)

4. Melengkapi Sarana Pendidikan
Sarana dan prasarana pendidikan tetap berperan dalam proses panjang pendidikan. Sarana yang membuat siswa pintar dan kreatif sangat diperlukan. Bahkan polemik pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berkaitan dengan kelengkapan sarana dan prasarana yang ada di tiap sekolah. Inilah yang menyebabkan kesenjangan antarsekolah di tiap provinsi sehingga perlu diperhatikan upaya melengkapinya.

5. Budaya Literasi yang Menantang
Sejak dicetuskannya gerakan literasi sekolah oleh Anis Baswedan selaku Mendikbud, sekolah-sekolah melaksanakannya terutama secara formal di 15 menit awal setelah masuk sekolah. Memang membudayakan literasi khususnya membaca memerlukan ketelatenan, contoh, dan tantangan. Tantangan dibuat agar siswa merasa dihargai dan penting dari membaca atau menulis. Orang yang suka membaca lama kelamaan akan mencoba menulis dan orang yang suka menulis pasti dari pengalaman membaca atau mendengar. Literasi tidak hanya didapatkan dari buku secara fisik, e book, koran, majalah, jurnal, namun juga dapat dari situs atau blog penyedia bacaan bermutu seperti dexter harto (http://dexterharto.com). Blog dexter harto menyajikan berita aktual (trending topic), video, folder belajar bersama, dan sebagainya. Bahkan untuk menantang pembaca menyelenggarakan lomba menulis di blog yang berhadiah.

Contoh gerakan literasi sekolah (dok: suara merdeka.com)

6. Perekrutan Guru Secara Terbuka
Guru merupakan pelaksana pembelajaran di sekolah. Perubahan kurikulum ujung-ujungnya juga tergantung pada kualitas guru. Demikian penting dan vital keberadaan guru maka perekrutan atau seleksi guru perlu dilakukan secara terbuka untuk mendapatkan guru terbaik sesuai kebutuhan pendidikan. Negara Jepang dapat bangkit setelah kalah Perang Dunia II juga berkat guru-gurunya yang berkarakter dan terbaik. Bagi guru yang sudah diangkat harus senantiasa aktif mengikuti pelatihan atau kursus yang terkait dengan profesi dan kompetensinya. Ibarat pedang maka perlu diasah supaya tajam.

Arti Penting Pendidikan

Pendidikan adalah segala-galanya namun segala-galanya tidak mesti dari pendidikan apabila pendidikan dan pembelajarannya tidak berkualitas. Ingatlah beberapa arti penting dari pendidikan yaitu:
1. Untuk memulai atau langkah awal dalam memutus mata rantai kemiskinan adalah dari Pendidikan.
2. Upaya mencegah dan menghindari kriminalitas apapun namanaya (koruptor, pencuri, penganiayaan, dan sebagainya) diperlukan Pendidikan.
3. Sukses hidup dimulai dari belajar, senantiasa belajar, dan belajar tiada akhir.
4. Peningkatan daya saing sebuah bangsa dibangun dari pendidikan yang berkualitas.
5. Untuk menghancurkan sebuah negara melalui empat hal yaitu wanita, uang, keluarga, dan pendidikan. Maka pendidikan harus diperhatikan dan mendapat porsi pertama dalam keluarga, masyarakat dan negara.

5 komentar:

  1. Menurut saya, siswa seharusnya diarahkan ke bidang yang dia minati, agar hasilnya maksimal, karena pada saat ini siswa dipaksa mendapat nilai yang baik pada semua mata pelajaran, yang belum tentu siswa sukai, hal ini dapat menurunkan semangat belajar para siswa dan merubah pola pikir siswa dari sekolah untuk pendidikan, menjadi sekolah untuk nilai

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, sebenarnya jumlah mata pelajaran ada pembatasan dan spesialisasi untuk siswa.

      Hapus
  2. Betul itu pak,sistem pendidikan sekarang benar - benar tidak memberi pilihan siswa untuk fokus ke bidangnya,padahal setiap orang memiliki bakat dan minta nya sendiri sendiri

    BalasHapus
  3. Bagus 👍.
    Pendapat saya, sistem Pendidikan di Indonesia ini masih memerlukan peninjauan ulang, karena selama ini siswa dituntut untuk menguasai mata pelajaran yg begitu banyak sehingga fokus siswa terpecah dan bahkan tdk bisa menemukan bidang yg dia minati. Siswa dituntut untuk mendapatkan nilai maksimal di semua mapel. Ditambah lagi ada guru yg hanya mengajar dan tdk membuat siswa memahami mapel tsb. Dan sistem di Indonesia ini yg seakan2 nilai adalah segala2nya. Maka siswa berlomba2 untuk mengejar nilai tetapi tdk mengejar pemahaman atau kualitas.

    Semoga tulisan Penulis bermanfaat.
    Terimakasih.
    (Aisyah Fitri Amalia)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, komentarnya bagus sekali dan ilmiah.

      Hapus

Berlangganan

//