News

Latest Post
Loading...
“Tiga syarat menghadapi tantangan global; perkuat kemandirian bangsa, tingkatkan daya saing, dan miliki peradaban bangsa yang mulia”. (Susilo Bambang Yudhoyono)

Senin, 30 November 2015

Karya KBM4: MENINGKATKAN KESADARAN BERBHINNEKA REMAJA DENGAN METODE BBM KEBHINNEKAAN SEBAGAI PERWUJUDAN SYUKUR NIKMAT KERUKUNAN DAN KEDAMAIAN

Rochimudin Indonesia | Senin, 30 November 2015 | 02.17 |
I.  Pendahuluan
Anak adalah warganegara hipotetik, yakni warganegara yang “belum jadi” karena masih harus dididik menjadi warganegara dewasa yang sadar akan hak dan kewajibannya (Budimansyah, 2007:11). Oleh karena itu setiap siswa baik sebagai remaja maupun pemuda dalam rombongan belajarnya merupakan generasi bangsa yang baru dalam tahun belajarnya, sehingga membutuhkan pembelajaran pendidikan kebhinnekaan yang aktual dan inspiratif. Meskipun sebenarnya pembelajaran membangun kesadaran kebhinnekaan sudah ada di sekolah namun model dan konsep pembelajaran perlu disesuaikan dengan perkembangan, terutama kondisi masyarakat yang pluralis.
Pemuda dan remaja bangsa Indonesia hidup di tengah perbedaan masyarakat yang beragam seperti suku, etnis, agama, kelompok, adat, dan sebagainya. Perbedaan ini diperlukan penguatan rasa kesadaran kebhinnekaan. Hal ini diperlukan seiring dengan gencarnya berita tentang berbagai ancaman dan gangguan terhadap kebhinnekaan bangsa seperti kejadian intoleransi di Tolikara pada saat Hari Idul Fitri 1436 H dan peristiwa di Singkil Aceh.
Pemahaman terhadap kebhinnekaan di berbagai tempat juga masih terbatas pada teori sehingga lebih ke ranah pengetahuan saja atau civic disposition (Winarno, 2013). 



Rasa kebhinnekaan apabila ditanyakan maknanya bagi warga negara Indonesia termasuk siswa sendiri, 85% siswa belum pernah merasakan aktualisasinya dalam perbuatan nyata. Para siswa mendapatkan semangat kebhinnekaan secara alamiah melalui pergaulan dengan teman yang berbeda.
Riset tentang intoleransi dan kekerasan atas nama agama yang dirilis LaKip pada tahun 2011 menunjukan data yang memprihatinkan. Pandangan intoleransi dan islamisme sempit menguat di kalangan pelajar. Ini dibuktikan dengan dukungan mereka terhadap tindakan pelaku perusakan dan penyegelan tempat ibadah (guru 24,5%, siswa 41,1%); perusakan rumah atau fasilitas anggota keagamaan yang dituding sesat (guru 22,7%, siswa 51,3%); perusakan tempat hiburan malam (guru 28,1%, siswa 58,0%); atau pembelaan dengan senjata terhadap umat Islam dari ancaman agama lain (guru 32,4%, siswa 43,3%).
Riset yang dilakukan oleh Setara Institut (2015:2) terhadap guru-guru agama dan siswa di Bandung dan Jakarta menunjukan bahwa 20,9% guru agama belum memberikan pengetahuan tentang toleransi. 28,7% menyatakan bahwa guru agama mereka tidak jelas mengajarkan makna kebhinnekaan sebagai warga negara.
Berdasarkan riset tersebut, maka dalam pembelajaran di sekolah khususnya berkaitan dengan membangun kesadaran berbhinneka diperlukan pembelajaran yang mana siswa dapat langsung merasakan nilai-nilai kebhinnekaan. Oleh karena itu menjadi tantangan bagi penulis dan para pemuda akan penerapan metode atau model pembelajaran yang mengimplementasikan toleransi kebhinnekaan secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

II. BENTUK KEGIATAN
Bentuk kegiatan dalam meningkatkan kesadaran berbhinneka sebagai perwujudan rasa syukur nikmat kerukunan dan kedamaian yaitu BBM (Berbagi, Bercerita dan Merasakan) Kebhinnekaan yang meliputi Live In Kebhinnekaan dan sambung rasa.
Live in Kebhinnekaan adalah bertempat tinggal sementara di rumah orang atau keluarga yang berbeda dengan kita, seperti berbeda agama, etnis, suku, dan atau golongan. Rumah orang yang akan ditinggali siswa selama dua atau tiga hari dipilih oleh guru, sekolah atau siswa mengusulkan kepada guru, dan yang terpenting berbeda atau bhinneka.
Siswa diantar oleh guru atau keluarga untuk tinggal di rumah induk semang untuk mengenal, memahami dan mengerti akan nilai-nilai, prinsip, kebiasaan, budaya, rasa ke-Indonesiaan melalui kegiatan keseharian. Kegiatan live in yang telah kami laksanakan diikuti oleh 17 siswa.
Sambung Rasa merupakan sebuah forum untuk saling menceritakan pengalaman selama live in kebhinnekaan dengan cara seperti presentasi di kelas. Setelah live in, peserta didik melalui kelompoknya membuat deskripsi laporan dalam bentuk artikel. Setiap laporan dipresentasikan di forum. Sebagai bahan refleksi dihadirkan beberapa tokoh umat beragama untuk memberi pelurusan dan komitmen bersama menghormati perbedaan mempererat persatuan untuk kerukunan dan kedamaian bumi Nusantara.

III. Tujuan Kegiatan
Tujuan kegiatan antara lain:
1.    Peserta didik mampu menghayati dan mengamalkan sikap dan perilaku menghormati kebhinnekaan melalui penghormatan terhadap anggota keluarga dan masyarakat yang berbeda untuk menumbuhkembangkan kerukunan dan kedamaian.
2.      Mengembangkan toleransi dan menghormati perbedaan.

IV.  Pembahasan
Rombongan remaja yang kami kirim untuk mengikuti live in kebhinnekaan berjumlah 17 siswa yang berbeda agama yang dianut, etnis atau suku, latar belakang orang tua, dsb. Hal ini karena kami mencoba merintis sebuah kegiatan awal di Semarang sehingga diharapkan keberlanjutan kegiatan di tempat lain dan diikuti sekolah lain pula. Dalam kehidupan masyarakat yang pluralisme dibutuhkan penguatan sikap menyadari kebhinnekaan. Hal ini diperlukan seiring dengan gencarnya berita tentang berbagai ancaman dan gangguan terhadap kebhinnekaan bangsa.
Menjadi tantangan bagi penulis untuk melaksanakan pembelajaran dengan metode atau model pembelajaran yang  mengimplementasikan toleransi kebhinnekaan secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Metode BBM (Berbagi, Bererita dan Merasakan) Kebhinnekaan akan dapat menjawab permasalahan tersebut.


Foto bersama narasumber sebagai wujud kebersamaan dan
persaudaraan sebangsa setanah air

Setelah siswa mengikuti serangkaian kegiatan yang meliputi live in dan sambung rasa, maka terdapat pandangan, sikap dan perilaku yang kuat dengan menumbuhkembangkan penghargaan terhadap toleransi, tenggang rasa, dan kepedulian terhadap orang yang berbeda latar belakang agama dan atau etnis.
Siswa memahami dan lebih mengerti bahwa bersikap dan berperilaku yang baik sesuai norma-norma di masyarakat lebih bermakna dan penting daripada membicarakan perbedaan agama atau etnis. Masyarakat lebih memandang sikap dan perilaku daripada pilihan agama.
Dengan menanyakan seperti identitas, kebiasaan, dan tempat keagamaan maka siswa menjadi lebih mengerti dan tidak terpengaruh isu-isu negatif. Terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan terhadap kelompok tertentu yang terjadi khususnya yang mengatasnamakan agama tertentu, siswa cenderung menyerahkan kepada yang berwajib dan mempercayakan mediasi pada tokoh-tokoh umat beragama. Disini penting untuk menghindari tindakan anarkis dan melanggar hukum. Kerukunan dan kedamaian bukan datang dengan sendirinya namun harus aktif untuk diusahakan dan ditingkatkan.
             Siswa tidak mempermasalahkan apakah keluarga yang ditempati selama live in termasuk golongan minoritas atau mayotitas dalam masyarakat. Masyarakat telah memperlakukan sama atau setara dan yang terpenting adalah sikap atau perbuatannya. Unsur menyesuaikan diri dengan masyarakat dan mampu bergaul dengan warga menjadi pudarnya sekat antara dikotomi minoritas dan mayoritas. Oleh karena itu yang jumlahhnya sedikit tidak merasa menjadi minoritas dan yang jumlahnya banyak tidak menjadi otoriter dalam hubungan sosial.
          Siswa sangat menghormati orang yang berbeda agama dalam menjalankan ibadah agamanya dan tidak saling mengganggu. Untukmu agamamu dan untuku agamaku, demikian pandangan dalam bertoleransi.
       Kebhinnekaan harus dianggap sebagai realitas dan sudah merupakan anugerah Tuhan kepada kita. Tuhan menciptakan kita berbeda lalu mengapa kita harus menyamakan? Dengan menghormati perbedaan yang ada dalam masyarakat multikultur dan agama maka hal itu akan memperkokoh persatuan bangsa dan negara dalam rangka perwujudan syukur nikmat akan kerukunan dan kedamaian Nusantara.
Secara spesifik siswa merasa memiliki pengalaman baru dan dapat menampilkan sikap sebagai berikut:
1.   Siswa dapat memahami perbedaan sebagai konsekuensi hidup dalam masyarakat yang plural. Perbedaan dianggap sebagai suatu hal yang biasa dan sudah umum terjadi sebagai anugerah Tuhan yang given. Ibarat pelangi perbedaan, pembentuk warna dari pelangi itu adalah perbedaan yang dapat disatukan dalam wadah kebhinnekaan.
2.  Peserta didik mampu menceritakan pengalaman pribadi tentang penghargaan terhadap kebhinnekaan. Siswa mengalami peristiwa yang penuh tantangan dan berkesan karena tinggal bersama keluarga yang berbeda agama dan atau etnis.

V. Penutup
Pembelajaran kebhinnekaan dengan metode BBM (Berbagi, Bercerita dan Merasakan) Kebhinnekaan telah mampu memberikan pengalaman baru yang berkesan bagi siswa yang merupakan remaja atau pemuda dalam menyikapi perbedaan. Metode ini telah memberikan peningkatan kesadaran dan sikap dalam mewujudkan kerukunan dan kedamaian sebagai wujud syukur nikmat di Indonesia.
Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan dukungan dari Bapak/Ibu sekalian dan pembaca. Dan disarankan kepada pihak-pihak di bawah ini:
1. Guru IPS, Sosiologi, Pendidikan Agama, atau guru kelas di sekolah untuk dapat menerapkan pembelajaran dengan model BBM Kebhinnekaan untuk memberikan pengalaman langsung toleransi dan kebhinnekaan kepada siswa sehingga siswa tidak sekedar tahu tetapi juga mengalami.

2.   Diperlukan kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan bidang keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, dsb serta Lembaga Keagamaan (MUI, KWI, PGI, Walubi, PHD, dan Matakin) agar dapat membantu rekomendasi narasumber.


Video Pembelajaran Kebhinnekaan

Tulisan ini diikutkan dalam: Kontes Blog Muslim 4 PPM Aswaja "Rasa Syukur Hidup Nikmat di Nusantara dari Perspektif Remaja dan Pemuda".



Lampiran 1
DOKUMENTASI LIVE IN 


Live in di rumah keluarga Bpk. Herman Laurens yang beragama Katolik



DOKUMENTASI SAMBUNG RASA

Salah satu presentasi siswa mengenai pengalaman live in
di rumah orang yang berbeda agama dengan peserta

Lampiran 2

DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, Dasim. 2007. Pendidikan Demokrasi sebagai Konteks Civic Education di Negara Berkembang. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan. Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan. Sekolah Pascasarjana UPI. Volume 1. No. 1. Oktober 2007.

Winarno. 2013. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Isi, Strategi, dan Penilaian. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berlangganan

//